kereta senja ke jkt
Jam setengah 6 lebiuh 5 menit keretaku sudah datang, dan aku tergesa-gesa naik bersama puluhan penumpang lainnya.
Aku di gerbong no.7 padahal di tiket ditulis no.6, atas permintaan petugas. Begitu kereta berangkat aku biasanya langsung terkantuk,
mungkin karena frekuensi swara mesin kereta api dan hawa panasnya. Penumpang di sekelilingku dengan heran melihat tidurku yang uek itu. ( menengadah ).
Saat mereka bareng makan sore aku di tawari juga tapi aku menolak karena lebih ingin menikmati tidur yang rasanya berbeda ini. Mungkin swara berisik hati
ku tersapu oleh swara kereta. Kereta berhenti setiap setasiunnya dan aku pun melongok keluar untuk mengetahui sudah sampai man diriku.
Tepat di stasiun aku terbangun dan kantukku lambat laun menghilang, penumpang sekitarku terutama di depanku mulai cerita-cerita tentang kejahatan-kejahatan
yang mereka alami. Hatiku mulai gelisah apa lagi menyindir tas kecilku yang aku sampirkan di pundakku. Lalu telingaku sengaja kualihkan ke orang itu, eh lama kelamaan kata-katanya menelanjangiku, malah menyebutkan rupiah yang aku punya. Mungkin pas aku tidur dia mendengar bisikan, atau hanya kebetulan. Sikapnya padaku jadi kurang ramah, kakinya di angkat ditaruh disampingku
tanpa permisi, sedang penumpang sebelahku gerah dan duduk di samping pintu kereta, demikian juga teman duduk di sampingnya. Swasana mulai tegang, kakiku aku taruh disamping dia untuk mengimbangi, walau sudah tua kalau tidak sopan yang
kita kurang respek. Akhirnya dia tertidur dan tertunduk, aku lihat kepalanya yang botak seperti lapangan bola semut. Aku pun lambat laun tertidur dan juga penumpang lainnya. Kira-kira hampir subuh kami di kejutkan oleh swara Takbir dan shalawat
oleh si penumpang di depan saya tadi, seolah ia melihat sesuatu di depannya. Sontak saja para penumpang terbangun dan menyaksikan si bapak yang sedang nglindur dengan tangan bersembah. Aku pun tersenyum kemudian melanjutkan pengemabaraan jiwaku lagi.
Location : Kereta api
Date/ Day : Selasa 10/04/06
Story of the beating of my heart :
Extreme close up shots : sebuah gentong isi air nampak atas, begitu di buka ada hempasan kecil.
Hali ini mendatangkan ide untuk membuat hujan buatan dalam pembuatan sinetron. Aku bersama seseorang berjalan-jalan di sekolah dan lokasi shooting, sambil menunjukkan
hasil karyaku, begitu tangan kuarahkan tanganku ke sebuah kolam maka terlihat seperti hujan deras di atasnya. Bisa juga mendatangkan angin puyuh buatan heheh dalam wilayah kecil sesuai kebutuhan.
time : 13.00-15.00 wib
Saudaraku sedang mendengarkan acaranya AA, indahnya kasih sayang...aku pun snyap-senyap mendengar dari kamar dimana aku tidur.
tiba-tiba swara AA di dubbing oleh Anton teman OJT ketika di hotel itu.
Kami berdiri sambil melipat tangan di dada, Kalau ngga salah mempersolakan pengunaan salam secara Islam, mungkin dia tahu artinya dan tidak sesuai dengan kenyataan.
Begitu menyinggung masalah salam itu aku pun bergerak maju barisan dan memutar tubuhku menghadap ke Anton.
Dan swara pak Habibi di dubbing oleh swara seorang kawan di Papua, aku juga heran kenapa jadi begini, sebuah laptop di hampiri oleh seorang kulit hitam, tapi aku tidak kenal orang itu sebelumnya.
Interior berubah menjadi di ruang bukan di podium seperti AA. Aku bangun sjenak dan masuk lagi ke frekwensi swara, mungkin melebar ke MW heheh
nah sekarang sudah hampir mirip dengan kondisi pengajian, tapi aku berada di blakang podium, seperti aula dengan pintu-pintu kayu jatinya. Anehnya kok di situ panitia juga memutar acara menangkap alam misteri.
Betul-betul terjadi overlapping frekuensi gelombang mimpi nih hihi. Mungkin mimpiku berlayer-layer. Kadang ada orang kesurupan juga.Seram juga layer satunya, sorang yang sedikit-demi sedikit termakan oleh virus ganas, lalu aku pergi mninggalkan
dan muncul di samping podium tadi. Aneh layernya nembus kepengajian tadi, tapi aku enggan untuk lewat depan podium melihat mereka pada pakai jubah.
lalu aku masuk lagi ke belakang podium yang luasnya spereti aula unpad itu, tiba-tiba aku melihat tetanggaku di damaran sedang membawa makanan. Lapar juga aku melihatnya, lalu dia menunjukkan suatu tempat, akupun bergegeas mencari eh ketemu sama Toro di samping pintu blakang unpad sedang mau masuk ke kampus.
Pakaiannya nampak rapi seperti pegawai kantoran, hmm dia khan di tangerang, ah namanya juga mimpi. Aku pun mendampinginya begitu masuk pintu terali, sekejap berubah jadi pakai kolor doang hehehe.
Senyum-senyum saja dia padaku. Akupun hanya mesam-mesem melihat tubuhnya agak berkeringat, yah aku mengerti dulu nikah dengan non muslim...mudah-mudahan langgeng.
cut to :
melihat seekor monyet yang di ikat tali lalu naik ke tugu monas
commen :
suer ewer ewer aku sendirian ke jkt ngga bawa monyet.
mungkin ada yang ingin menimba ilmu jadi ikut terus sorry jangan tersinggung dulu.
siapa juga yang bikin-bikin orang lagi tidur.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home